Facebook Fan Page
Sitemap
Kontak
Pengaduan Masyarakat
Kuisioner
 
BERANDATENTANG KRPPELAYANANKOLEKSIPENELITIANTAUTANUNDUHANLELANGBANK BIJI
Berita lainnya
04-10-2018
Kembangkan Plasma Nutfah Pisang, Pengelola University Farm Universitas Teuku Umar Studi Banding ke Kebun Raya Purwodadi

03-09-2018
Mbak Amik, Pustakawan Terbaik LIPI dari Kebun Raya Purwodadi

23-08-2018
Mengenal Lebih Dekat Flora Masyarakat Jawa Kuno Melalui Relief Candi Borobudur

berita lainnya >>



beranda > what's on > mengenal lebih dekat flora masyarakat jawa kuno melalui relief candi borobudur

Mengenal Lebih Dekat Flora Masyarakat Jawa Kuno Melalui Relief Candi Borobudur


Tumbuhan yang ada di sekitar kita saat ini, mungkin hanya dikenal sebagai mana kita melihatnya. Tahukah kamu? Ternyata banyak tumbuhan yang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sejak jaman dahulu, khususnya masyarakat Jawa kuno. Baru-baru ini Tim Peneliti Kebun Raya Purwodadi – LIPI melakukan observasi keanekaragaman jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Jawa kuno berdasarkan informasi motif flora pada relief Candi Borobudur.

Candi Borobudur dibangun pada tahun 800 Masehi. Candi ini memiliki 1460 panil relief cerita dan 1212 relief dekoratif serta 504 arca Buddha pada empat penjuru mata angin. Seperti namanya “Borobudur“ yang berarti biara di perbukitan memang digunakan sebagai tempat beribadah penganut Buddha. Relief candi Borobudur menceritakan kehidupan masyarakat pada jaman tersebut selain bercerita tentang proses Sang Buddha mendapatkan pencerahan.

Panil relief cerita pada candi Borobudur tersebar dari bagian kaki candi (Kamadhatu) hingga bagian badan candi (Ruphadatu). Bagian kaki candi dihiasi dengan panil relief cerita Karmawibhangga yang berisi tentang ajaran hokum sebab akibat atau hukum karma. Pada tingkatan selanjutnya di bagian Ruphadatu, dapat dijumpai relief cerita Lalitavistara, Jataka, Avadana, dan Gandavyuha.

Fauziah, Ketua Tim Peneliti Flora Relief Candi Borobudur menuturkan bahwa terdapat 53 jenis flora Jawakuno yang teridentifikasidari 10 relief candi Borobudur di tingkat Ruphadatu. Beberapa jenis tanaman buah-buahan yang sering muncul di setiap relief candi antara lain Mangga (Mangifera indica), Manggis (Garcinia mangostana), Durian (Durio zibethinus), Jambu Biji (Psidium guajava), Jambu Darsono (Syzygium malaccense), Jambu Air/Kancing (Syzygium aqueum) dan Siwalan (Borassus flabelifer). Selain itu juga dijumpai tanaman yang dianggap religi seperti Pohon Bodi (Ficus religiosa), tanaman pangan seperti Talas (Alocasia esculenta) dan Sukun (Artocarpus altilis), tanaman kayu yaitu Nyamplung (Calophyllum inophyllum), tanaman berpotensi hias dan obat seperti Keben (Barringtonia asiatica)dan lain-lain.

Sebagian besar motif flora yang teridentifikasi dan terpahat pada masing-masing relief pada umumnya merupakan jenis tumbuhan yang telah dibudidayakan oleh masyarakat Jawa kuno dan dapat dijumpai di alam. Pohon dan bunga yang terpahat dalam relief candi adalah hasil observasi penulis terhadap lingkungannya. Sang penulis atau biasa disebut dengan Kawi biasanya akan mencari keindahan bagi tulisannya melalui apa yang dilihat dan ditemukannya di alam. Mereka biasanya tertarik pada pohon-pohon yang berbunga seperti Cempaka/Kantil (Magnolia champaca). Bunga Cempaka yang berwarna kuning muda lebih sering dipakai perempuan sebagai hiasan.

 Mangga dan Manggis merupakan 2 jenis flora yang mendominasi panil pada masing-masing relief tingkat Ruphadatu. Keduanya termasuk jenis tanaman budidaya yang telah ada di zaman masyarakat Jawa kuno dan juga tercatat pada sumber prasasti Jawa kuno abad IX-X M. Tanaman Mangga seperti yang dijumpai pada relief cerita Lalitavistara memiliki ciri duduk daun berkarang atau terlihat seperti spiral dari tampak atas, buah terlihat sangat jelas dan sangat mudah dikenali, sehingga cenderung lebih mudah diidentifikasi. Dari 10 relief yang diamati, tanaman Mangga diketahui terpahat pada 10 relief, dan ditampilkan sebanyak 339 kali. Tanaman Manggis sendiri merupakan jenis flora kedua yang mendominasi di setiap relief pada tingkat Ruphadatu. Tanaman Manggis ditampilkan pada relief sebanyak 329 kali dan paling sering muncul di relief Gandavyuha. Hingga saat ini kedua tanaman ini masih dibudidayakan oleh masyarakat dan masih dapat dijumpai di alam.

Bunga Seroja atau dikenal dengan Bunga Lotus yang terpahat pada relief Gandavyuha tidak spesifik digambarkan dalam bentuk tanaman utuh. Bunga Seroja ini hanya digambarkan seperti tempat yang digunakan Sang Buddha untuk berpijak atau tempat duduk. Bunga Lotus sendiri merupakan symbol penting dalam agama Budha, karena menjadi symbol kelahiran Sang Budha.Pohon Bodi memiliki karakter bentuk daun bulat menyerupai bentuk hati, dengan pangkal melengkung, tangkai daun panjang dan ujung daun meruncing. Dalam agama Buddha, pohon Bodi ini dianggap suci, karena merupakan tempat bertapa atau semedi Sang Buddha dalam mencapai masa pencerahan.

Terdapat satu jenis tanaman yang dapat diidentifikasi, namun tanaman tersebut tidak dijumpai di alam, yaitu Pohon Kalpataru. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Hindu dan Buddha, pohon Kalpataru merupakan pohon yang hanya tumbuh di kahyangan. Pada relief candi-candi, Pohon Kalpataru digambarkan sebagai hiasan ornamental berupa pohon dengan manik-manik dan permata, dibagian atasnya terdapat payung yang menaungi pohon, di bawahnya terdapat pundi-pundi yang mengelilingi pohon tersebut. Ada pula makhluk pengapit yang disebut Kinara Kinari. Penggambaran ini mengandung simbolis tertentu, beberapa sumber menyebutkan Pohon Kalpataru sebagai Pohon Kehidupan. (Shofiyatul M.)




Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi - LIPI
Jl. Raya Surabaya - Malang Km. 65, Purwodadi, Pasuruan - Jawa Timur 67163
Telp. (0343) 615033, Fax. (0341) 426046

Copyright © 2008-2016 Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
responsive css boilerplate by Skeleton