Facebook Fan Page
Sitemap
Kontak
Pengaduan Masyarakat
Kuisioner
 
BERANDATENTANG KRPPELAYANANKOLEKSIPENELITIANTAUTANUNDUHANLELANGBANK BIJI
Berita lainnya
19-09-2017
Tingkatkan Pelayanan Publik, Kebun Raya Purwodadi selenggarakan Pelatihan Budaya Pelayanan Prima

13-09-2017
Kunjungan Tim Peneliti Penyakit Pisang (BBTV Mitigation Project) ke Kebun Raya Purwodadi

08-09-2017
Tingkatkan Pemanfaatan IPTEK, Kebun Raya Purwodadi jalin kerjasama dengan stakeholders

berita lainnya >>



beranda > what's on > spesies baru anggrek dari pulau jawa, kado hut lipi ke-50

Spesies Baru Anggrek dari Pulau Jawa, kado HUT LIPI ke-50


 

Spesies unik ini bernama Gastrodia bambu. Pemberian specific epithet ‘bambu’, diambil dari Bahasa Indonesia, merujuk pada habitatnya yang spesifik di sekitar rumpun-rumpun bambu. Deskripsi spesies baru anggrek ini telah diterbitkan pada jurnal ilmiah internasional Phytotaxa  oleh Peneliti BKT Kebun Raya Purwodadi LIPI, Destario Metusala yang sekaligus mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia, bersama dengan peneliti biologi konservasi Universitas Indonesia, Jatna Supriatna pada pertengahan Agustus 2017, bertepatan dengan HUT LIPI ke-50.

 

Berdasarkan catatan rekaman populasinya, spesies ini merupakan anggrek endemik yang hanya ada di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat dan Yogyakarta. Populasinya pun terbatas dan menghadapi tekanan degradasi habitat yang tinggi. Anggrek Gastrodia bambu termasuk dalam kelompok anggrek holomycotrophic (kelompok anggrek yang dalam seluruh siklus hidupnya bergantung kepada jamur mikoriza untuk suplai nutrisi). Para peneliti di luar negeri seringkali menyebut kelompok anggrek holomycotrophic sebagai achlorophyllous orchid karena tidak memiliki organ daun (fase vegetatif). Kelompok tumbuhan ini tidak berklorofil sehingga tidak dapat berfotosintesis, namun tidak bersifat parasit. Oleh karena itu, seluruh daur hidupnya menggantungkan suplai nutrisi organik melalui simbiosis dengan jamur mikoriza.

 

Kelompok anggrek ini umumnya hanya muncul pada satu periode pendek (2-4 minggu) dalam satu tahun. Perbungaannya secara tiba-tiba akan muncul dari permukaan tanah/seresah, kemudian setelah 1-2 minggu perbungaan akan layu busuk dan lenyap. Kombinasi warna bunga genus Gastrodia pun tidak pernah mencolok, umumnya berkisar pada putih, kekuningan, hingga kecoklatan. Kesan ‘angker’ anggrek ini muncul terlebih karena anggrek ini menyukai habitat yang gelap, lembab, di area rumpun bambu lebat  yang  sudah tua.

 

Gastrodia bambu memiliki bunga berbentuk lonceng dengan ukuran panjang 1,7-2 cm dan lebar 1,4-1,6 cm. Bunganya didominasi oleh warna coklat gelap dengan bagian bibir bunga berbentuk mata tombak memanjang bercorak jingga. Pada satu perbungaan dapat menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian. Bunga menghasilkan aroma ikan busuk untuk mengundang serangga polinator. Perbungaan muncul dari tanah berseresah di bawah rumpun bambu pada ketinggian 800 - 900 m dpl.

 

Anggrek ini memerlukan kondisi ekologi yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan seperti kekeringan, intensitas cahaya berlebih, dan juga perubahan pada media tumbuhnya. Gangguan pada habitatnya, misalnya pembukaan rumpun bambu, diduga akan mengganggu pertumbuhan populasi anggrek ini.

 

Spesies baru ini sekaligus menjadi kado HUT LIPI ke-50 yang jatuh pada 23 Agustus 2017. Publikasi spesies baru ini juga tidak lepas dari kontribusi rekan-rekan mahasiswa pada organisasi kemahasiswaan Canopy (Departemen Biologi, Universitas Indonesia) dan BiOSC (FakultasBiologi, Universitas Gadjah Mada). Kedua organisasi tersebut berperan besar dalam membantu proses pengamatan habitat dan pencatatan rekam populasi. (Destario Metusala/Editor: Tim Website KRP)




Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi - LIPI
Jl. Raya Surabaya - Malang Km. 65, Purwodadi, Pasuruan - Jawa Timur 67163
Telp. (0343) 615033, Fax. (0341) 426046

Copyright © 2008-2016 Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
responsive css boilerplate by Skeleton