Penelitian Analisis Karakteristik Morfologi dan Hubungan Fenetik Kayu Hitam

Penelitian Analisis Karakteristik Morfologi dan Hubungan Fenetik Kayu Hitam

Purwodadi, Humas LIPI. Tim Peneliti Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi LIPI melakukan kegiatan penelitian analisis karakteristik morfologi dan hubungan fenetik Diospyros spp. “Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengelompokan fenetik 14 spesies Diospyros Indonesia,” jelas Ridesti Rindyastuti, peneliti Diospyros. Lebih lanjut Ridesti menjelaskan karakteristik morfologi berdasarkan karakter tajuk tanaman, batang, daun, dan buah yang dianalisis menggunakan UPGMA dan indeks kesamaan Jaccard.

Dendrogram fenetik membagi 14 spesies Diospyros menjadi dua kelompok utama yang memisahkan Subgen Maba dan Eudiospyros. Selanjutnya, subgen Maba diklaster menjadi satu klaster, sementara subgen Eudiospyros dibagi menjadi 3 sub-klaster sebagai sister group.

Pengelompokan di Eudiospyros didukung oleh nilai SI dan bootstrap yang rendah, menunjukkan variasi morfologi subgenus yang tinggi. Pemisahan penampang Diospyros spp. dianggap sebagai parafiletik. Secara umum, pengelompokan fenetik menunjukkan kesesuaian dan relevansi dengan klasifikasi sebelumnya.

Ukuran buah dan trikoma sangat penting dalam pengelompokan fenetik ini, terutama untuk membentuk subgenus Eudiospyros. Trikoma buah juga merupakan karakter khusus yang terkait dengan distribusi biogeografis mengikuti teori garis Wallace.

Dari penelitian yang telah dilakukan, dijelaskan bahwa hubungan fenetik Diospyros spp. menunjukkan variasi morfologi yang tinggi, seperti pada tekstur kulit kayu, tajuk, bentuk daun, venasi, kelenjar daun, trikoma, pelepah daun, dan morfologi buah. Berdasarkan hasil analisis pengelompokan menggunakan UPGMA, juga ditemukan bahwa pembagian subgenera Diospyros oleh Bakhuizen van den Brink (1937;1938) bersifat monofiletik. Dendrogram hubungan fenetik membagi 14 spesies Diospyros menjadi dua kelompok utama yang memisahkan Subgen.

Berdasarkan literatur dapat diketahui bahwa Diospyros adalah genus terbesar dari keluarga Ebenaceae. Ada lebih dari 500 spesies di seluruh dunia dengan keragaman morfologi yang besar di seluruh wilayah Indo-Pasifik. Diospyros memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, anggota kelompok ini dikenal menghasilkan kayu keras, gelap, berkualitas tinggi yang dikenal sebagai pohon ebony. Anggota lainnya dikenal sebagai pohon kesemek.

Beberapa spesies yang termasuk dalam genus ini, seperti Diospyros celebica, Diospyros pilosanthera, Diospyros cauliflora, dan Diospyros ebenum diketahui menghasilkan kayu yang berharga dan berkualitas tinggi seperti untuk kerajinan dan alat musik. Spesies lain seperti Diospyros discolor, Diospyros malabarica dan Diospyros hasseltii diketahui menghasilkan kesemek yang dapat dimakan, menjadikannya genus yang penting secara ekonomi.

Berdasarkan beberapa literatur penelitian terbaru mengungkapkan bioaktivitas obat dari spesies Diospyros seperti antioksidan, anti-inflamasi, analgesik, anti-diabetes, anti-mikroba dan anti kanker. Namun, informasi tentang karakter morfologi dan hubungan fenetik genus ini dari kepulauan Indonesia masih terbatas. Informasi lengkap mengenai hasil penelitian Ridesti Rindyastuti, Lia Hapsari, Anjar Tri Wibowo dapat dipelajari pada jurnal ilmiah Biodiversitas Volume 22, Number 7, July 2021 Pages : 2739-2754 dan dapat diunduh melalui tautan : http://smujo.id/biodiv/article/view/8321. (MYA/ed:FRW)

Share this post