Curcuma mangga Valeton & Zijp

Curcuma mangga Valeton & Zijp

Curcuma mangga merupakan herba parenial dan dibudidayakan di Thailand Peninsular Malaysia dan Indonesia.  Jenis ini di Indonesia dikenal dengan nama Temu Mangga dan sudah banyak dibudidayakan di Jawa. Penggunaan Temu mangga banyak digunakan untuk obat tradisional yang dikenal dengan jamu.  Temu mangga memiliki prospek sebagai obat tradisional, sebagai campuran makanan dan minuman maupun sebagai komoditi ekspor yang menjanjikan. Berdasarkan penelitian pengalaman (empiris) temu mangga memiliki manfaat menyembuhkan berbagai macam penyakit yaitu asma, hepatitis, TBC, sinusitis, sebagai antikanker dan menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah.  Komponen utama yang berkhasiat dalam rimpang temu mangga adalah kurkuminoid, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri. Temu putih juga mengandung senyawa antibakteri terhadap E. coli.

Habitus temu mangga adalah herba parennial dengan rimpang bercabang dengan warna kekuningan di bagian luar. dan berwarna lemon dibagian dalam. Daun berwarna hijau dapat mencapai ketinggian 30-65 cm, berbentuk pedang hingga elips, lonjong-oblanceolate dengan panjang 15-95 cm x lebar 5-23 cm. Perbungaan pada temu mangga muncul pada dasar tangkai daun, braktea  terpisah dan berwarna hijau hingga ungu, bractea berwarna putih berada pada dasar perbuangaan dan ungu untuk bagian atas mahkota bunga dengan panjang 3-4 cmberwarna putih. Labellum/bibir dengan panjang 15-25 mm dan lebar 14-18 mm berwarna putih. Benang sari terlipat longitudinal. Kepala sari berwarna putih dengan taji panjang dan sempit (Padua et al, 1999). Temu mangga dibudidayakan di tanah yang sangat subur, dengan ketinggian  sampai dengan 1000 m dpl. Perbanyakan tanaman ini sangat mudah. Perbanyakan dilakukan secara vegetatif dengan stek rimpang.

Share this post